Selasa, 10 Januari 2012

SENI BERUMAH TANGGA; Bertengkar itu INDAH lho...

Assalamuaalikum wr.wb


Didedikasikan khusus teruntuk Shohib – Karib yang sudah berumah tangga, ataupun yang akan menikah di Tahun ini. Bertengkar adalah fenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumah tangga. Kalau seseorang berkata, "Saya tidak pernah bertengkar dengan isteri saya!" kemungkinannya dua, boleh jadi dia belum beristri, dan atau ia tengah berdusta. Yang jelas kita perlu menikmati saat-saat bertengkar itu, sebagaimana lebih menikmati lagi saat-saat tidak bertengkar. Bertengkar itu sebenarnya sebuah keadaan diskusi, hanya saja diantarkan dalam muatan emosi.

Kalau tahu etikanya, dalam bertengkar pun kita bisa mereguk hikmah. Betapa tidak, justru dalam pertengkaran, setiap kata yang terucap mengandung muatan perasaan yang sangat dalam, yang mencuat dengan desakan energi yang tinggi, pesan-pesannya terasa kental, lebih mudah dicerna ketimbang basa basi tanpa emosi.

Ketika akan menikah, cobalah untuk memikirkan dan merancang masa depan kehidupan berumah tangga. Satu hal yang jangan sampai terlupa adalah, merumuskan apa yang harus dilakukan jika bertengkar. Beberapa poin di bawah ini barangkali bisa menjadi "ikatan pengertian" di saat bertengkar.

Kalau bertengkar tidak boleh berjamaah. Cukup seorang saja yang marah marah, yang terlambat mengirim sinyal nada tinggi harus menunggu sampai yang satu reda. Untuk urusan marah pantang berjamaah. Seorangpun sudah cukup membuat rumah jadi meriah. Ketika Anda marah dan dia mau menyela, segera Anda katakan, "STOP! ini giliran saya!"
Begitupun jika giliran dia yang marah, jangan ikut ambil bagian. Katakan dalam hati, "Duh kekasih, bicaralah terus, kalau dengan itu hatimu menjadi lega, maka dipadang kelegaan perasaanmu itu aku menunggu...."

Marahlah untuk persoalan itu saja, jangan ungkit yang telah usang. Siapa pun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti terpojok, sebab masa silam adalah bagian dari sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah. Siapa pun tidak akan suka dinilai dengan masa lalunya. Sebab harapan terbentang mulai hari ini hingga ke depan. Dalam bertengkar pun kita perlu menjaga harapan dan bukan menghancurkannya. Sebab pertengkaran di antara orang yang masih mempunyai harapan, hanyalah sebuah foreplay, sedang pertengkaran dua hati yang patah asa, menghancurkan peradaban cinta yang telah sedemikian mahal dibangun.

Kalau saya terlambat pulang dan ia marah, maka kemarahan atas keterlambatan itu sekeras apa pun kecamannya, adalah "ungkapan rindu yang keras". Tapi bila itu dikaitkan dengan seluruh keterlambatan saya, minggu lalu, awal bulan kemarin dan dua bulan lalu, maka itu membuat saya terpuruk jatuh.

Bila teh yang disajinya tidak manis, sepedas apa pun saya marah, maka itu adalah "harapan ingin disayangi lebih tinggi". Tapi kalau itu dihubungkan dengan kesalahannya kemarin dan tiga hari lewat, plus tuduhan "Sudah tidak suka lagi ya dengan saya," maka saya telah menjepitnya dengan hari yang telah pergi, saya menguburnya di masa lalu, ups…! saya telah membunuhnya, membunuh cintanya.

Padahal kalau cintanya mati, siapa yang sudah?
Kalau marah jangan bawa-bawa keluarga..!

Saya dengan isteri saya terikat baru beberapa waktu, tapi saya dengan ibu dan bapak saya hampir berkali lipat lebih panjang dari itu, demikian juga ia dan kakak serta pamannya. Dan konsep Qur’an, seseorang itu tidak menanggung kesalahan fihak lain (QS.53:38-40).

Saya tidak akan terpancing marah bila cuma saya yang dia marahi. Tapi kalau ibu saya diajak serta, jangan coba-coba. Begitupun dia, semenjak saya menikahinya, saya telah belajar mengabaikan siapa pun di dunia ini selain dia, karenanya mengapa harus bawa bawa barang lain ke kancah "awal cinta yang panas ini".

Kata ayah saya, "Teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu banyak." Memarahi orang yang mencintai saya, lebih mudah dicari maafnya dari pada ngambek pada yang tidak mengenal hati dan diri saya..." Dunia sudah diambang pertempuran, tidak usah ditambah tambah dengan memusuhi mertua !

Kalau marah jangan di depan anak anak ! Anak kita adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan kebencian. Dia tidak lahir lewat pertengkaran kita. Karena itu, mengapa mereka harus menonton komedi liar rumah kita. Anak yang melihat orang tua nya bertengkar, bingung harus memihak siapa. Membela ayah, bagaimana ibunya ? Membela ibu, tapi itu kan bapak saya.


Misal, ketika anak mendengar ayah-ibunya bertengkar:

Ibu : "Saya ini capek, saya bersihkan rumah, saya masak, dan kamu datang main suruh begitu, memang saya ini babu?!"

Bapak : "Saya juga capek, kerja seharian, kamu minta ini dan itu dan aku harus mencari lebih banyak untuk itu. Saya datang hormatmu tak ada, memang saya ini kuda ?!"

* Anak : "Yaaa ... Ibu saya babu, Bapak saya kuda ....terus saya ini apa ?"

Kita harus berani berkata : "Hentikan pertengkaran!" ketika anak datang, lihat mata mereka, dalam binarannya ada rindu dan kebersamaan. Pada tawanya ada jejak kerjasama kita yang romantis, haruskah ia mendengar kata bahasa hati kita ?
Kala
u marah jangan lebih dari satu waktu sholat ! Pada setiap tahiyyat kita berkata, "Assalaa-mu 'alaynaa wa 'alaa'ibaadilahissholiihiin," Ya Alloh damai  atas kami, demikian juga atas hamba hamba-Mu yang sholeh.
Nah andai setelah salam kita cemberut lagi, setelah salam kita tatap isteri kita dengan amarah, maka kita telah mendustai-Nya, padahal nyawamu di tangan-Nya.

OK, marahlah sepuasnya kala senja, tapi habis Maghrib harus terbukti lho itu janji dengan Ilahi. Marahlah habis Subuh, tapi jangan lewat waktu Zuhur, Atau maghrib sebatas Isya... Atau habis Isya sebatas..? Nnngg... Ah kayaknya kita sepakat kalau habis Isya sebaiknya memang tidak bertengkar...
Tapi yang jelas memang begitu, selama ada cinta, bertengkar hanyalah "Proses belajar untuk mencintai lebih intens" ternyata ada yang masih setia dengan kita walau telah kita maki-maki.

Nasehat Guyonan :
Jangan bertengkar dengan isterimu untuk hal-hal yang tidak perlu. Sebab kamu akan kehilangan dia disaat-saat yang paling perlu.

Selasa, 30 November 2010

_Ada Mujahid di rumahku_

Bismillah

Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh...

Saudari ku yang di muliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala
sungguh Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman “dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasullah maka sesungguhnya ia mendapat kemenangan yang besar.”

Sodariku yang di muliakan oleh allah subhanahu wa ta’ala,
 di kehidupan kita tiada kebahagiaan yang sempurna selain kebahagiaan seseorang dalam dirumah tangganya dan kebahagiannya kelak dikehidupan akhirat. Begitu pula tiada penderitaan yang paling menyakitkan selain penderitaan dalam kehidupan rumah tangganya dan penderitaannya kelak di akhirat. Maka siapa saja yang merasa bahagia dalam menjalani  rumah tangganya ia pun pasti akan bahagia dalam menjalani hidup sesamanya. Begitu pula sebaliknya, jika ia menrasa kehilangan ketenangan jiwa dalam kehidupan rumah tangganya maka kehidupan bersama yg lain pun akan terasa menyusahkan dan membosankan.

Sodari ku tahukah kamu,
kebahagianan bukanlah bintang ajaib yang jatuh kepada setiap kita lantas kita akan merasakannya. dan siapa yg tdk mendapatkan bintang itu maka hidupnya akan menderita dan susah. Akan tetapi kebahagiaan terjadi diluar kemampuan manusia, terjadi luar ambang batas kesanggupan manusia. Dan itu hanya bisa diraih dgn tekad yg kuat, usaha, dan kerja keras. Kebahagiaan yg penuh arah melintang dan juga batu terjal yg  menghadang, kebahagiaan hakiki yang menjadi janji Rabbul ‘izzati. kebahagiaan yang tak jarang membuat orang mati dalam meniti hingga menjadikan sedikit sekali orang yang merindukannya. Karena indahnya dunia, indahnya dunia dan banyaknya harta telah melenyapkan  mengalahkan janji Rabbulnya.
Sodari ku yang dimuliakanoleh Allah,
satu-satunya jalan yang dapat menghantarkan kita kepada kebahagiaan dan ketenangan di dunia serta keselamatan juga keberuntungan kita diakhrat adalah ketaatan kepada Allah dan RasulNya. Ketaatan yang menuntut keikhlasan, ketaatan yang tidak menjadikan hati menjadi berat, ketaatan yang menuntut penirimaan yang tulus dari kita ketaatan yang membutuhkan harta, keluarga dan jiwa sekalipun dalam diri kita.
Oleh karena itu sodari kubyg dimuliakan oleh allah subhanahu wa ta’ala,
  sungguh indah bila tatanan rumah tangga dihiasa dengan ketaatan kepada Allah dan rasuNya, alangkah bahagianya bila suami adalah orang yang selalu mendermakan hidup, harta dan jiwanya untuk meraih kemuliaan di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.  Keningnya senantiasa tunduk karena sujud, lisan yang tak pernah lelah dari berzdikir, keringatnya tak pernah kering dan debu selalu menutupi tubuh dan pakaiannya karena kecintaannya yang berjuang di jalan Allah subhanahu wa ta’ala.
Engkau, ya enggkau dan aku tak pernah memalingkannya untuk meraih kemuliaanya disisi Rabb nya justru suami mu akan menjadikanmu dan anakmu sebagai bahtera yang menyelamatkan kehidupannya. Bukan sebagai penghalang atau penghancur kebahagiaanya. Suami mu akan selalu menanamkan sifat qonaah dan juga keperwiraan kepada keluarganya. Juga tidak pernah berkecil hati dengan segala pembriaan Rabb nya kepadanya.

Sodari ku yg dimuliakan oleh allah subhanahuwa ta’ala,
Alangkah bahagiannya bila diri mu mendermakan hidup, harta dan jiwamu untuk meraih kebahagiaan disisi allah subhanahu wa ta’ala.  Kebahagiaannya akan kamu raih dengan ketaatan mu kepada suami , selalu menjaga rahasia, harta dan kehormatan suami. Karena tahukah kamu bila surga dan neraka mu tergantung ketaatan mu kepda suami mu. Biarkan bibir merah mu yang mereka selalu tersenyum simpul dengan pemberian suami yg tercinta. Biarkan dari tangan mu lembut dan muliah tumbuh kembang sosok-sosok perwira. Malam mu selalu dihidupakan untuk berdoa, memohon dan merajuk kepada Rabbul ‘izzati demi kemuliaan diri anak dan suami mu. Kamu tdk akan pernah rela bila suami mu tergoda oleh kenikmatan dunia yang fana dan hati mu pun tidak akan pernah tenang bila suami lari dari ladang perjuangan kamu pun tidak ingin diri mu menjadi penghalang suami mu untuk meraih kemuliaannya.
Oleh karena itu sodari ku, bangga lah dgn dirimu banggalah dengan keadaan mu karena kamu adalah istri seorang mujaid. Ya, kamu istri seorang mujahid. Dan kamu bukankah seorang istri konglomerat. Kalau suami mu ingin meninggalkan jihad ini dan kerja siang malam setegah mati mungkin saja riskinya disana akan memberikan tambahan uang untuk kamu, tetapi kamu, kamu akan mendaopatkan banyak sekali kerugian dikehidupan.
Tahukah kamu wajai sodariku, seorang suami yan jauh dari jihad, jauh dari zdikir dan jauh dari islam, dia akan senang bermain diluar, berkhianat di luar dan dia tidak pernah bisa mendidik juga tidak pernah bisa membuat anak mu menjadi orang-orang yang berjiwa mulia. Sodari ku akhirnya toh kamu akan menua, keriput, melayu mengenang masa lalu yg kelam, tapi jagan lupa wahai sodari ku, jangan pernah lupa, kalau dirumah mu ada seorang mujahid.
Ohh, sungguh suatu kebanggaan tersendiri di rumah ku ada seorang mujahid, suatu kebanggaan luar biasa bagi seorang wanita mempunyai suami seorang mujahid. Boleh jadi dia seorang yg tak punya, boleh jadi dia seorang tak perkasa, namun itu semua tak mengapa. Karena dia mulia di mata Rabb nya.

Sodari ku yang di muliakan Allah subhanahuwa ta’ala,
Apalah arti keindahan karena keindahan itu di hati dan perilaku, apalah arti dari kekayaan karena kekayaan itu adalah kekayaan hati dan iman, jangan pernah kau sakiti dia siapa tahu dia sudah punya istri disurga sana sedang memarahi mu dan mengatakan biarkan lah ia biarkanlah ia jangan kau ganggu suami ku. Sodari ku jangan sampai malaikat mencerca mu karena kamu telah menyusahkan snag mujahid dimalam hari dan menggurutuinya di pagi hari. Demi Allah kehidupanmu akan susah dan perjalananmu mu akan terasa berat bila kamu menyulitkannya. Tidaklaah kamu ingin berkumpul kembali bersamanya di jannah.?
Ohh..,Sungguh suatu kebanggaan tersendiri dirumahku ada seorang mujahid.

Oleh Fachry SH

Jumat, 12 November 2010

"Sikap Muslim Dalam Menghadapi Musibah"

Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya, amiin.
Saudaraku! Ucapkanlah:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا
“Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan kamipun kepada-Nya akan kembali. Ya Allah karuniakanlah kami pahala atas ketabahan kami menerima musibah ini dan gantikanlah kami dengan yang lebih baik dibanding apa yang telah sirna karena musibah tersebut.”
Kembali negara kita dirundung musibah. Saudara-saudara kita umat Islam di negeri kita tercinta kembali mendapat cobaan. Gempa kembali menghancurkan bangunan, perumahan dan merenggut jiwa sebagian saudara kita dan melukai tubuh sebagian lainnya.
Jangan berkecil hati! Tetaplah berbaik sangka kepada Allah Ta’ala, dan tabahkanlah hatimu. Percayalah, bila anda tabah menerima musibah ini, tanpa keluh kesah, dan tetap berbaik sangka kepada suratan takdir ilahi ini, niscaya Allah memberikan jalan keluar terbaik bagi kita dan negeri kita. Bukan hanya jalan keluar yang terbaik, bahkan musibah ini berubah menjadi nikmat.
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ   {155} الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ {156} أُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ . البقرة 155-157
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapatkan pujian dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs. Al Baqarah: 155-157)
Saudaraku! Ummu Salamah radhiallahu ‘anha mengisahkan: Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barang siapa ditimpa musibah, selanjutnya ia berkata:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا
“Niscaya Allah melimpahkan pahala kepadanya dalam musibah yang menimpanya itu dan menggantikannya dengan yang lebih baik dari apa yang telah sirna darinya.” Dan tatkala suamiku Abu Salamah meninggal dunia, akupun mengucapkan ucapan itu, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ternyata Allah menggantikanku dengan yang lebih baik dari Abu Salamah, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Riwayat Al Bukhari)
Benar, setelah masa ‘iddah Ummu Salamah berlalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus utusan untuk melamar Ummu Salamah untuk dijadikan sebagai istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allahu Akbar! Benar-benar pengganti yang lebih baik, dan bahkan tiada yang lebih baik darinya. Betapa tidak, mendapat kehormatan menjadi pendamping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semasa hidupnya di dunia, menjadi belahan jiwanya di dunia. Dan sudah barang tentu menjadi pendamping beliau di surga, di sisi Allah Ta’ala. Benar-benar beliau Ummu Salamah radhiallahu ‘anha mendapat karunia kebahagian di dunia dan akhirat.
Apa yang dialami oleh Ummu Salamah ini hanyalah contoh nyata dari apa yang dijanjikan Allah Ta’ala kepada orang-orang yang bersabar.
Dan bila saudara bertanya: Bila demikian adanya, maka apa yang mungkin kita peroleh sebagai ganti dari apa yang menimpa kita seklarang ini; rumah rusak, harta benda hancur berantakan, kerabat luka-luka dan mungkin meninggal dunia?
Jangan kawatir saudaraku! Ganti yang lebih besar telah Allah siapkan untuk anda, bila anda benar-benar bersabar menjalani musibah ini. Anda ingin tahu apa balasan yang telah menanti anda? Simaklah jawabannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
أُمَّتِى هَذِهِ أُمَّةٌ مَرْحُومَةٌ لَيْسَ عَلَيْهَا عَذَابٌ فِى الآخِرَةِ عَذَابُهَا فِى الدُّنْيَا الْفِتَنُ وَالزَّلاَزِلُ وَالْقَتْلُ. رواه أحمد وأبو داود وصححه الحاكم ووافقه الألباني
“Ummatku ini adalah ummat yang dirahmati, mereka semua tidak akan disiksa secara menyeluruh di akhirat, siksa mereka hanyalah terjadi di dunia, berupa berbagai kekacauan, gempa bumi dan pertumpahan darah yang menimpa mereka.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan dinyatakan sebagaihadits shahih oleh Al Hakim dan disetujui oleh Al Albani)
Saudaraku! Berbagai musibah yang silih berganti menimpa negeri kita, adalah sebagai tebusan atas berbagai kemaksiatan yang akhir-akhir ini merajalela di negeri kita. Pornografi, pornoaksi, riba, narkoba, tidak membayar zakat, dan memakan harta haram.
Mungkin anda akan berkata: Mengapa anda kok begitu pesimis dan berburuk sangka terhadap masyarakat dan negara anda sendiri?
Saudaraku! Ketahuilah bahwa saya tidak sedang berburuk sangka dan pesimis terhadap negeri dan masyarakat saya sendiri. Coba saudaraku sekalian membandingkan keadaan negeri kita sekitar 20 tahun silam dengan negeri kita sekarang. Jauh berbeda bukan?
Walaupun hati ini pilu, seakan hancur tersayat-sayat mengikuti berita musibah yang demikian bertubi-tubi dan silih berganti. Akan saya masih dapat menyaksikan sinar harapan yang tetap bercahaya bersama terbitnya mentari di setiap pagi hari.
Betapa tidak, walau kemaksiatan dan kemungkaran telah begitu meraja lela, akan tetapi Allah Ta’ala masih sudi menerima tebusan dari kita yang terwujud dalam bencana alam.
Andai Allah Ta’ala talah menutup pintu harapan dari negeri kita, niscaya Allah akan menunda semua musibah ini hingga di akhirat, dan hanya siksa nerakalah yang menanti kita. Mungkinkah anda mengharapkan kemungkinan ini yang menimpa negeri dan masyarakat anda?
Inilah sebagian dari hikmah yang dapat kita petik dari sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang senantiasa memuji Allah, walaupun ditimpa kesusahan.
Sahabat ‘Aisyah radhiallahu ‘anha mengisahkan: Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila mendapatkan hal yang beliau sukai, beliau mengucapkan:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ
“Segala puji hanya milik Allah Yang atas karunia-Nya segala kebaikan dapat terwujud.”
Dan bila mendapatkan hal yang tidak beliau sukai, beliau berkata:
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ
“Segala puji hanya milik Allah atas segala keadaan yang menimpa.” (Riwayat Ibnu Majah, Al Hakim dan dinyatakan sebagai hadits shahih oleh Al Albani)
Semoga bencana yang bertubi-tubi dan musibah yang silih berganti ini telah mengobarkan semangat dalam jiwa saudara sekalian untuk berjuang merintis perubahan. Hanya dengan perjuangan saudara-saudara sekalianlah negeri kita akan kembali makmur dan diselimuti oleh kemakmuran, kerahmatan dan kedamaian.
ذَلِكَ بِأَنَّ اللّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِّعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمْ وَأَنَّ اللّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ. الأنفال 53
“Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Pendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al Anfaal: 53)
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الْمُنْكَرَ لاَ يُغَيِّرُونَهُ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابِهِ. رواه أحمد وابن ماجة وصححه الألباني
“Sesungguhnya masyarakat bila mengetahui suatu kemungkaran lalu mereka tidak merubahnya, maka tidak lama lagi Allah akan menimpakan hukuman kepada mereka semua.” (Riwayat Ahmad, Ibnu Majah dan dinyatakan sebagai hadits shahih oleh Al Albani)
Saudaraku! Kunci perubahan negeri anda ada di tangan anda, bagaimana dan kapankah anda menggunakan kunci itu, sehingga negeri anda menjadi negeri yang penuh dengan kerahmatan dan kedamaiaan?
Kapan lagi bila bukan sejak sekarang? Tegakkanlah nahi mungkar dan sebarkanlah yang ma’ruf, niscaya bencana dan musibah yang selama ini setiap menemani negeri kita akan menyingkir.
Penulis:  Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, MA   hafidzohullah
Untuk melengkapi khasanah keilmuwan  terhadap sikap kita dalam menghadapi musibah simak kajian  yang sangat bermanfaat berikut

:
Tema          :  Sikap Muslim Dalam Menghadapi Musibah
Pemateri   : Ustadz Fariq Bin Qasim Anuz hafidzohullah

Sabtu, 06 November 2010

"Kisah-kisah keajaiban perang Di Palestina"

Gaza, itulah nama hamparan tanah yang luasnya tidak lebih dari 360 km persegi. Berada di Palestina Selatan, “potongan” itu “terjepit” di antara tanah yang dikuasai penjajah Zionis Israel, Mesir, dan laut Mediterania, serta dikepung dengan tembok di sepanjang daratannya.
Sudah lama Israel “bernafsu” menguasai wilayah ini. Namun, jangankan menguasai, untuk bisa masuk ke dalamnya saja Israel tidak mampu.
Sudah banyak cara yang mereka lakukan untuk menundukkan kota kecil ini. Blokade rapat yang membuat rakyat Gaza kesulitan memperoleh bahan makanan, obat-obatan, dan energi, telah dilakukan sejak 2006 hingga kini. Namun, penduduk Gaza tetap bertahan, bahkan perlawanan Gaza atas penjajahan Zionis semakin menguat.
Akhirnya Israel melakukan serangan “habis-habisan” ke wilayah ini sejak 27 Desember 2008 hingga 18 Januari 2009. Mereka”mengguyurkan” ratusan ton bom dan mengerahkan semua kekuatan hingga pasukan cadangannya.
Untitled1 Kisah   Kisah Keajaiban Perang di Gaza, Palestina
Namun, sekali lagi, negara yang tergolong memiliki militer terkuat di dunia ini harus mundur dari Gaza.
Di atas kertas, kemampuan senjata AK 47, roket anti tank RPG, ranjau, serta beberapa jenis roket buatan lokal yang biasa dipakai para Palestina, mampu menghadapi pasukan Israel yang didukung tank Merkava yang dikenal terhebat di dunia. Apalagi menghadapi canggih F-16, heli tempur Apache, serta ribuan ton “bom canggih” buatan Amerika Serikat.
Akan tetapi di sana ada “kekuatan lain” yang membuat para mampu membuat “kaum penjajah” itu hengkang dari Gaza dengan muka tertunduk, walau hanya dengan berbekal senjata-senjata “kuno”.
Itulah pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada para pejuangnya yang taat dan ikhlas. Kisah tentang munculnya “pasukan lain” yang ikut bertempur bersama para , semerbak harum jasad para syuhada, serta beberapa peristiwa “aneh” lainnya selama pertempuran, telah beredar di kalangan masyarakat Gaza, ditulis para jurnahs, bahkan disiarkan para khatib Palestina di khutbah-khutbah Jumat mereka.
kami merangkum kisah-kisah “ajaib” tersebut dari berbagai sumber untuk para pembaca yang budiman. Selamat mengikuti. ***
Pasukan “Berseragam Putih” di Gaza
Ada “pasukan lain” para Palestina. Pasukan Israel sendiri mengakui adanya pasukan berseragam putih itu.
Suatu hari di penghujung Januari 2009, sebuah rumah milik keluarga Dardunah yang berada di antara Jabal Al Kasyif dan Jabal Ar Rais, tepatnya di jalan Al Qaram, didatangi oleh sekelompok pasukan Israel.
Seluruh anggota keluarga diperintahkan duduk di sebuah ruangan. Salah satu anak laki-laki diinterogasi mengenai ciri-ciri para pejuang al-Qassam.
Saat diinterogasi, sebagaimana ditulis situs Filisthin Al Aan (25/1/2009), mengutip cerita seorang al-Qassam, laki-laki itu menjawab dengan jujur bahwa para pejuang al-Qassam mengenakan baju hitam-hitam. Akan tetapi tentara itu malah marah dan memukulnya hingga laki-laki malang itu pingsan.
Selama tiga hari berturut-turut, setiap ditanya, laki-laki itu menjawab bahwa para pejuang al-Qassam memakai seragam hitam. Akhirnya, tentara itu naik pitam dan mengatakan dengan keras, “Wahai pembohong! Mereka itu berseragam putih!”
Cerita lain yang disampaikan penduduk Palestina di situs milik Brigade Izzuddin al-Qassam, Multaqa al-Qasami, juga menyebutkan adanya “pasukan lain” yang tidak dikenal. Awalnya, sebuah ambulan dihentikan oleh sekelompok pasukan Israel. Sopirnya ditanya apakah dia berasal dari kelompok Hamas atau Fatah? Sopir malang itu menjawab, “Saya bukan kelompok mana-mana. Saya cuma sopir ambulan.”
Akan tetapi tentara Israel itu masih bertanya, “Pasukan yang berpakaian putih-putih dibelakangmu tadi, masuk kelompok mana?” Si sopir pun kebingungan, karena ia tidak melihat seorangpun yang berada di belakangnya. “Saya tidak tahu,” jawaban satu-satunya yang ia miliki.
Suara Tak Bersumber
Ada lagi kisah karamah yang kali ini disebutkan oleh khatib masjid Izzuddin Al Qassam di wilayah Nashirat Gaza yang telah ditayangkan oleh TV channel Al Quds, yang juga ditulis oleh Dr Aburrahman Al Jamal di situs Al Qassam dengan judul Ayaat Ar Rahman fi Jihad Al Furqan (Ayat-ayat Allah dalam Jihad Al Furqan).
Sang khatib bercerita, seorang pejuang telah menanam sebuah ranjau yang telah disiapkan untuk menyambut pasukan Zionis yang melalui jalan tersebut.
“Saya telah menanam sebuah ranjau. Saya kemudian melihat sebuah helikopter menurunkan sejumlah besar pasukan disertai tank-tank yang beriringan menuju jalan tempat saya menanam ranjau,” kata pejuang tadi.
Akhirnya, sang pejuang memutuskan untuk kembali ke markas karena mengira ranjau itu bekerja optimal. Maklum, jumlah musuh amat banyak.
Akan tetapi, sebelum beranjak meninggalkan lokasi, pejuang itu mendengar suara “Utsbut, tsabatkallah” yang maknanya kurang lebih, “tetaplah di tempat maka Allah menguatkanmu.” Ucapan itu ia dengar berulang-ulang sebanyak tiga kali.
“Saya mencari sekeliling untuk mengetahui siapa yang mengatakan hal itu kapada saya. Akan tetapi saya malah terkejut, karena tidak ada seorang pun yang bersama saya,” ucap itu, sebagaimana ditirukan sang khatib.
Akhirnya sang memutuskan untuk tetap berada di lokasi. Ketika sebuah tank melewati ranjau yang tertanam, sesualu yang “ajaib” terjadi. Ranjau itu justru meledak amat dahsyat. Tank yang berada di dekatnya langsung hancur. Banyak serdadu Israel meninggal seketika. Sebagian dari mereka harus diangkut oleh helikopter. “Sedangkan saya sendiri dalam keadaan selamat,” kata itu lagi, melalui lidah khatib.
Cerita yang disampaikan oleh seorang penulis Mesir, Hisyam Hilali, dalam situs alraesryoon.com, ikut mendukung kisah-kisah sebelumnya. Abu Mujahid, salah seorang pejuang yang melakukan ribath (berjaga) mengatakan, “Ketika saya mengamati gerakan tank-tank di perbatasan kota, dan tidak ada seorang pun di sekitar, akan tetapi saya mendengar suara orang yang bertasbih dan beritighfar. Saya berkali-kali mencoba untuk memastikan asal suara itu, akhirnya saya memastikan bahwa suara itu tidak keluar kecuali dari bebatuan dan pasir.”
Cerita mengenai “pasukan tidak dikenal” juga datang dari seorang penduduk rumah susun wilayah Tal Islam yang handak mengungsi bersama keluarganya untuk menyelamatkan diri dari serangan Israel.
Di tangga rumah ia melihat beberapa pejuang menangis. “Kenapa kalian menangis?” tanyanya.
“Kami menangis bukan karena khawatir keadaan diri kami atau takut dari musuh. Kami menangis karena bukan kami yang bertempur. Di sana ada kelompok lain yang bertempur memporak-porandakan musuh, dan kami tidak tahu dari mana mereka datang,” jawabnya
Saksi Serdadu Israel
Cerita tentang “serdadu berseragam putih” tak hanya diungkap oleh Palestina atau warga Gaza. Beberapa personel pasukan Israel sendiri menyatakan hal serupa.
Situs al-Qassam memberitakan bahwa TV Chan*nel 10 milik Israel telah menyiarkan seorang anggota pasukan yang ikut serta dalam pertempuran Gaza dan kembali dalam keadaan buta.
“Ketika saya berada di Gaza, seorang tentara berpakaian putih mendatangi saya dan menaburkan pasir di mata saya, hingga saat itu juga saya buta,” kata anggota pasukan ini.
Di tempat lain ada serdadu Israel yang mengatakan mereka pernah berhadapan dengan “hantu”. Mereka tidak diketahui dari mana asalnya, kapan munculnya, dan ke mana menghilangnya.
Masih dari Channel 10, seorang Lentara Israel lainnya mengatakan, “Kami berhadapan dengan pasukan berbaju putih-putih dengan jenggot panjang. Kami tembak dengan senjata, akan tetapi mereka tidak mati.”
Cerita ini menggelitik banyak pemirsa. Mereka bertanya kepada Channel 10, siapa sebenarnya pasukan berseragam putih itu? ***
Sudah Meledak, Ranjau Masih Utuh
Di saat para terjepit, hewan-hewan dan alam tiba-tiba ikut , bahkan menjelma menjadi sesuatu yang menakutkan.
Sebuah kejadian “aneh” terjadi di Gaza Selatan, tepatnya di daerah AI Maghraqah. Saat itu para sedang memasang ranjau. Di saat mengulur kabel, tiba-tiba sebuah pesawat mata-mata Israel memergoki mereka. Bom pun langsung jatuh ke lokasi itu.
Untunglah para selamat. Namun, kabel pengubung ranjau dan pemicu yang tadi hendak disambung menjadi terputus. Tidak ada kesempatan lagi untuk menyambungnya, karena pesawat masih berputar-putar di atas.
Tak lama kemudian, beberapa tank Israel mendekati lokasi di mana ranjau-ranjau tersebut ditanam. Tak sekadar lewat, tank-tank itu malah berhenti tepat di atas peledak yang sudah tak berfungsi itu.
Apa daya, kaum Mujahidin tak bisa berbuat apa-apa. Kabel ranjau jelas tak mungkin disambung, sementara tank-tank Israel telah berkumpul persis di atas ranjau.
Mereka merasa amat sedih, bahkan ada yang menangis ketika melihat pemandangan itu. Sebagian yang lain berdoa, “allahumma kama lam tumakkinna minhum, allahumma la tumakkin lahum,” yang maknanya, “Ya Allah, sebagaimana engkau tidak memberikan kesempatan kami menghadapi mereka, jadikanlah mereka juga lidak memiliki kesempatan serupa.”
Tiba-tiba, ketika fajar tiba, terjadilah keajaiban. Terdengar ledakan dahsyat persis di lokasi penanaman ranjau yang tadinya tak berfungsi.
Setelah Tentara Israel pergi dengan membawa kerugian akibat ledakan lersebut, para segera melihal lokasi ledakan. Sungguh aneh, ternyata seluruh ranjau yang telah mereka tanam itu masih utuh. Dari mana datangnva ledakan? Wallahu a’lam.
Masih dari wilayah Al Maghraqah. Saat pasukan Israel menembakkan artileri ke salah satu rumah, hingga rumah itu terbakar dan api menjalar ke rumah sebelahnya, para dihinggapi rasa khawatir jika api itu semakin tak terkendali.
Seorang dari itu lalu berdoa,”Wahai Dzat yang merubah api menjadi dingin dan tidak membahayakan untuk Ibrahim, padamkanlah api itu dengan kekuatan-Mu.”
Maka, tidak lebih dari tiga menit, api pun padam. Para niujahidin menangis terharu karena mereka merasa Allah Subhanuhu wa Ta’ala (SWT) telah memberi pertolongan dengan terkabulnya doa mereka dengan segera.
Merpati dan Anjing
Seorang Palestina menuturkan kisah “aneh” lainnya kepada situs Filithin AlAan (25/1/ 2009). Saat bertugas di wilayah Jabal Ar Rais, sang melihat seekor merpati terbang dengan suara melengking, yang melintas sebelum rudal-rudal Israel berjatuhan di wilayah itu.
Para yang juga melihat merpati itu langsung menangkap adanya isyarat yang ingin disampaikan sang merpati.
Begitu merpali itu melintas, para langsung berlindung di tempat persembunyian mereka. Ternyata dugaan mereka benar. Selang beberapa saat kemudian bom-bom Israel datang menghujan. Para itu pun selamat.
Adalagi cerita “keajaiban” mengenai seekor anjing, sebagaimana diberitakan situs Filithin Al Aan. Suatu hari, tatkala sekumpulan Al Qassam melakukan ribath di front pada tengah malam, tiba-tiba muncul seekor anjing militer Israel jenis doberman. Anjing itu kelihatannya memang dilatih khusus untuk pasukan Israel menemukan tempat penyimpanan senjata dan persembunyian para .
Anjing besar ini mendekat dengan menampakkan sikap tidak bersahabat. Salah seorang kemudian mendekati anjing itu dan berkata kepadanya, “Kami adalah para di jalan Allah dan kami diperintahkan untuk tetap berada di tempat ini. Karena itu, menjauhlah dari kami, dan jangan menimbulkan masalah untuk kami.”
Setelah itu, si anjing duduk dengan dua tangannya dijulurkan ke depan dan diam. Akhirnya, seorang yang lain mendekatinya dan memberinya beberapa korma. Dengan tenang anjing itu memakan korma itu, lalu beranjak pergi.
Kabut pun Ikut Membantu
Ada pula kisah menarik yang disampaikan oleh komandan lapangan Al Qassam di kamp pengungsian Nashirat, langsung setelah usai shalat dhuhur di masjid Al Qassam (17/1/2009).
Saat itu sekelompok yang melakukan ribath di Tal Ajul terkepung oleh tank-tank Israel dan pasukan khusus mereka. Dari atas, pesawat mata-mata terus mengawasi.
Di saat posisi para terjepit, kabut tebal tiba-tiba turun di malam itu. Kabut itu lelah menutupi pandangan mata tentara Israel dan pasukan keluar dari kepungan.
Kasus serupa diceritakan oleh Abu Ubaidah. salah satu pemimpin lapangan Al Qassam, sebagaimana ditulis situs almesryoon.com. la bercerita bagaimana kabut tebal tiba-tiba turun dan membatu para untuk melakukan serangan.
Awalnya, pasukan mujahiddin tengah menunggu waktu yang tepat untuk mendekati tank-tank tentara Israel guna meledakkannya. “Tak lupa kami berdoa kepada Allah agar dimudahkan untuk melakukan serangan ini,” kata Abu Ubaidah.
Tiba-tiba turunlah kabut tebal di tempat tersebut. Pasukan segera bergerak menyelinap di antara tank-tank, menanam ranjau-ranjau di dekatnya, dan segera meninggalkan lokasi tanpa diketahui pesawat mata-mata yang memenuhi langit Gaza, atau oleh pasukan infantri Israel yang berada di sekitar kendaraan militer itu. Lima tentara Israel tewas di tempat dan puluhan lainnya luka-luka setelah ranjau-ranjau itu meledak.
Selamat dengan al-Qur’an
Cerita ini bermula ketika salah seorang pejuang yang menderita luka memasuki rumah sakit As Syifa’. Seorang dokter yang memeriksanya kaget ketika mengelahui ada sepotong proyektil peluru bersarang di saku pejuang tersebut.
Yang membuat ia sangat kaget adalah timah panas itu gagal menembus jantung sang pejuang karena terhalang oleh sebuah buku doa dan mushaf al-Qur’an yang selalu berada di saku sang pejuang.
Buku kumpulun doa itu berlobang, namun hanya sampul muka mushaf itu saja yang rusak, sedangkan proyektil sendiri bentuknya sudah “berantakan”.
Kisah ini disaksikan sendiri oleh Dr Hisam Az Zaghah, dan diceritakannya saat Festival Ikatan Dokter Yordan sebagaimana ditulis situs partai Al Ikhwan Al Muslimun (23/1/2009).
Dr Hisam juga memperlihatkan bukti berupa sebuah proyektil peluru, mushaf Al Qur’an, serta buku kumpulan doa-doa berjudul Hishnul yang menahan peluru tersebut.
Abu Ahid, imam Masjid AnNur di Hay As Syeikh Ridzwan, juga punya kisah menarik. Sebelumnya, Israel telah menembakkan 3 rudalnya ke masjid itu hingga tidak tersisa kecuali hanya puing-puing bangunan. “Akan tetapi mushaf-mushaf Al Quran tetap berada di tampatnya dan tidak tersentuh apa-apa,” ucapnya seraya tak henti bertasbih.
“Kami temui beberapa mushaf yang terbuka tepat di ayat-ayat yang mengabarkan tentang kemenangan dan kesabaran, seperti firman Allah, ‘Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata, sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali,”(Al-Baqarah [2]: 155-156),” jelas Abu Ahid sebagaimana dikutip Islam Online (15/1/2009).***
Harum Jasad Para Syuhada
As Shani adalah anggota kesatuan sniper (penembak jitu) al-Qassam yang menjadi sasaran rudal pesawat F-16 Israel ketika sedang berada di pos keamanan di Nashirat, Gaza.
Jasad komandan lapangan al-Qassam dan pengawal khusus para tokoh Hamas ini “hilang” setelah terkena rudal. Selama dua hari jasad tersebut dicari, ternyata sudah hancur tak tersisa kecuali serpihan kepala dan dagunya. Serpihan-serpihan tubuh itu kemudian dikumpulkan dan dibawa pulang ke rumah oleh keluarganya untuk dimakamkan.
Sebelum dikebumikan, sebagaimana dirilis situs syiria-aleppo. com (24/1/2009), serpihan jasad tersebut sempat disemayamkan di sebuah ruangan di rumah keluarganya. Beberapa lama kemudian, mendadak muncul bau harum misk dari ruangan penyimpanan serpihan tubuh tadi.
Keluarga As Shani’ terkejut lalu memberitahukan kepada orang-orang yang mengenal sang pejuang yang memiliki kuniyah (julukan) Abu Hamzah ini.
Lalu, puluhan orang ramai-ramai mendatangi rumah tersebut untuk mencium bau harum yang berasal dari serpihan-serpihan tubuh yang diletakkan dalam sebuah kantong plastik.
Bahkan, menurut pihak keluarga, 20 hari setelah wafatnya pria yang tak suka menampakkan amalan-amalannya ini, bau harum itu kembali semerbak memenuhi rungan yang sama.
Cerita yang sama terjadi juga pada jenazah Musa Hasan Abu Nar, Al Qassam yang juga syahid karena serangan udara Israel di Nashiriyah. Dr Abdurrahman Al Jamal, penulis yang bermukim di Gaza, ikut mencium bau harum dari sepotong kain yang terkena darah Musa Hasan Abu Nar. Walau kain itu telah dicuci berkali-kali, bau itu tetap semerbak.
Ketua Partai Amal Mesir, Majdi Ahmad Husain, menyaksikan sendiri harumnya jenazah para syuhada. Sebagaunana dilansir situs Al Quds Al Arabi (19/1/2009), saat masih berada di Gaza, ia menyampaikan, “Saya telah mengunjungi sebagian besar kota dan desa-desa. Saya ingin melihat bangunan-bangunan yang hancur karena serangan Israel. Percayalah, bahwa saya mencium bau harumnya para syuhada.”
Dua Pekan Wafat, Darah Tetap Mengalir
Yasir Ali Ukasyah sengaja pergi ke Gaza dalam rangka bergabung dengan sayap milisi pejuang Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam. Ia meninggalkan Mesir setelah gerbang Rafah, yang menghubungkan Mesir-Gaza, terbuka beberapa bulan lalu.
Sebelumnya, pemuda yang gemar menghafal al-Qur’an ini sempat mengikuti wisuda huffadz (para penghafal) al-Qur’an di Gaza dan bergabung dengan para untuk memperoleh pelatihan militer. Sebelum masuk Gaza, di pertemuan akhir dengan salah satu sahabatnya di Rafah, ia meminta didoakan agar memperoleh kesyahidan.
Untung tak dapat ditolak, malang tak dapat diraih, di bumi jihad Gaza, ia telah memperoleh apa yang ia cita-citakan. Yasir syahid dalam sebuah pertempuran dengan pasukan Israel di kamp pengungsian Jabaliya.
Karena kondisi medan, jasadnya baru bisa dievakuasi setelah dua pekan wafatnya di medan pertempuran tersebut.
Walau sudah dua pekan meninggal, para pejuang yang ikut serta melakukan evakuasi menyaksikan bahwa darah segar pemuda berumur 21 tahun itu masih mengalir dan fisiknya tidak rusak. Kondisinya mirip seperti orang yang sedang tertidur.
Sebelum syahid, para pejuang pernah menawarkan kepadanya untuk menikah dengan salah satu gadis Palestina, namun ia menolak. “Saya meninggalkan keluarga dan tanah air dikarenakan hal yang lebih besar dari itu,” jawabnya.
Kabar tentang kondisi jenazah pemuda yang memiliki kuniyah Abu Hamzah beredar di kalangan penduduk Gaza. Para khatib juga menjadikannya sebagai bahan khutbah Jumat mereka atas tanda-tanda keajaiban perang Gaza. Cerita ini juga dimuat oleh Arab Times (7/2/ 2009)
Terbunuh 1.000, Lahir 3.000
Hilang seribu, tumbuh tiga ribu. Sepertinya, ungkapan ini cocok disematkan kepada penduduk Gaza. Kesedihan rakyat Gaza atas hilangnya nyawa 1.412 putra putrinya, terobati dengan lahirnya 3.700 bayi selama 22 hari gempuran Israel terhadap kota kecil ini.
Hamam Nisman, Direktur Dinas Hubungan Sosial dalam Kementerian Kesehatan pemerintahan Gaza menyatakan bahwa dalam 22 hari 3.700 bayi lahir di Gaza. “Mereka lahir antara tanggal 27 Desember 2008 hingga 17 Januari 2009, ketika Is*rael melakukan serangan yang meninggalnya 1.412 rakyat Gaza, yang mayoritas wanita dan anak-anak,” katanya.
Bulan Januari tercatat sebagai angka tertinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya. “Setiap tahun 50 ribu kasus tercatat di Gaza. Dan, dalam satu bulan tercatat 3.000 hingga 4.000 . Akan tetapi di masa serangan Israel 22 hari, kami mencatat 3.700 dan pada sisa bulan Januari tercatat 1.300 . Berarti dalam bulan Januari terjadi peningkatan hingga 1.000 kasus.
Rasio antara kematian dan di Gaza memang tidak sama. Angka , jelasnya lagi, mencapai 50 ribu tiap tahun, sedang kematian mencapai 5 ribu.
“Israel sengaja membunuh para wanita dan anak-anak untuk menghapus masa depan Gaza. Sebanyak 440 anak-anak dan 110 wanita telah dibunuh dan 2.000 anak serta 1.000 wanita mengalami luka-luka.

Kamis, 04 November 2010

"Taubat Kemuncak Muhasabah"

Muhasabah atau timbal balik atau post mortem adalah suatu istilah popular malah suatu agenda rutin terutama dalam dunia kedoktoran dan dunia korporat. Muhasabah dalam sebuah syarikat perniagaan lazimnya adalah untuk menilai kembali pencapaian keuntungan syarikat di samping merujuk kepada komentar para pengguna kepada produk atau perkhidmatan mereka di samping turut menilai keberkesanan strategi pemasaran yang telah digunapakai.  Taubat dalam syarikat perniagaan mungkin merujuk kepada kekesalan terhadap pelbagai strategi dan keputusan yang tidak menguntungkan yang kemudian disusuli dengan strategi dan keputusan yang dikatakan lebih efektif dan efisien.


Dalam konteks individu, ramai orang telah bermuhasabah dan bertaubat. Bagaimanapun, banyak yang bukan kerana Allah tapi mungkin kerana wang dan kedudukan atau kerana etika dan norma yang lebih didasarkan kepada rasa malu kepada manusia.  Ramai juga orang menyesal tak sudah (seperti dengan mengatakan: ‘taubat aku tak nak buat lagi’) apabila melakukan kesilapan di depan khalayak ramai.  Ramai orang lebih malukan khalayak manusia yang hidup daripada berasa malu di hadapan khalayak manusia yang sudah mati (di Padang Mahsyar).

Sebab itu kalimat taubat harus dilihat sebagai suatu kalimat khusus dalam  Islam sebagaimana ad-din, jihad dan lainnya.  Taubat daripada konteks bahasa bermaksud ‘kembali kepada Allah’ yang punya konotasi dosa dan pahala, syurga dan neraka, juga hari penghisaban dan hari pembalasan – hari yang secara mutlak dikuasai dan dimiliki oleh Allah semata.  Sehubungan itu, Imam ar-Raghib al-Ashfahani menerangkan: "Dalam istilah syara', taubat adalah meninggalkan dosa karena keburukannya, menyesali dosa yang telah dilakukan, berkeinginan kuat untuk tidak mengulanginya dan berusaha melakukan apa yang dapat diulangi (diganti).  Jika keempat hal itu telah dipenuhi bererti syarat taubatnya telah sempurna."

Muhasabah dan taubat tidak dapat dipisahkan ibarat tiada taubat tanpa muhasabah.  Muhasabah adalah perintis jalan kepada pintu taubat dan pintu  rahmat. Muhasabah adalah amalan para salaf as-soleh sebagaimana kata-kata Umar al-Khattab r.a.: “Hisablah diri kamu sebelum kamu dihisabkan, timbangilah diri kamu sebelum kamu  ditimbangkan”.  Hati yang telah sudi bermuhasabah bermakna telah sudi dan sanggup melapangkan dada dan merendahkan diri untuk mengaku kesilapan dan kesalahan diri sendiri samada di hadapan manusia apatah lagi di hadapan Allah.  Taubat pula adalah puncak dan kemuncak muhasabah, sekaligus merupakan simbol rasa hamba yang hina dina lagi pasrah kepada Allah – yang tentunya sukar dilakukan oleh manusia-manusia ego.

Ego pula tidak sekali-kali dapat disatukan dengan taubat, lantaran ego mengandungi syirik kepada Allah – merendahkan Allah daripada sifat-sifat dan nama-nama Allah yang indah lagi mulia.  Mana mungkin manusia ego sanggup merendahkan dirinya, bermuhasabah diri lalu bertaubat kepada Allah.  Sebaliknya, mana mungkin Allah mengampuni dosa ego dan syirik kepada-Nya. Firman Allah yang bermaksud:
"Sesungguhnya Allah tidak mengampunkan (dosa) seseorang jika dia mensyirikkan-Nya, dan Dia mengampuni dosa selain daripada itu." (an-Nisa’: 48).

Justeru, Allah Maha Adil untuk mengasihi dan menyayangi orang-orang yang
bertaubat, yang memohon keampunan dan sering membersihkan diri.  Juga Maha
Adillah Allah untuk mengganjari syurga buat golongan yang bertaubat sebagaimana firman-Nya yang bermaksud: “Orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji Allah, yang berpuasa (atau mengembara menuntut ilmu), yang rukuk, yang sujud, yang
menyuruh yang makruf dan melarang daripada yang mungkar, yang memelihara
batasan-batasan Allah.  Berilah khabar gembira kepada orang-orang yang beriman itu (dengan syurga).” (at-Taubah: 112)

Selasa, 02 November 2010

Wasiat dari Mujahid yg Takut Virus Cinta (tentang nikah Sirri)

Setelah "Mengguncang" Facebook dengan Wasiatnya yang berjudul "Wasiat
dari Mujahid Yg Patah Hati", Seseorang Bernama Mujahid mengirim
Wasiatnya Yg KEDUA. Tapi Sebelumnya, Julukannya Dirubah Menjadi
"Mujahid yg Takut Virus Cinta". ( yg ingin mengetahui Siapa Mujahid
Bisa di Klik disini :
http://www.facebook.com/note.php?saved&&suggest&note_id=346111670498 )
SEKARANG IA MENGIRIM WASIATNYA YANG KEDUA TENTANG NIKAH SIRRI, INILAH
WASIATNYA :
بسم الله الرحمن الرحيم
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ,
وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا,
وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ
هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
Ammaa ba'd.
IKHWAH FILLAH RAHIMAKUMULLAH !
Saya bersyukur pada Allah, karena dengan izin-Nya lah saya bisa
menyampaikan Wasiat ini.
Langsung saja Ke Permasalahan,
Akhir-Akhir ini diributkan masalah RUU perkawinan, dimana didalamnya
menyangkut Masalah Nikah Sirri.
Menurut saya, Sebetulnya yang menjadi masalah bukan Hukum Nikah Sirrinya.
Rasulullah Bersabda :
"Umumkanlah pernikahan"
(H.R. An-Nasai dan At-Tirmidzi, dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Adabuz Zifaf)
Yang menurut saya menjadi Polemik adalah DEFINISI NIKAH SIRRI yang di
Masyarakat Indonesia masih terjadi banyak penafsiran.
Ada sekiranya 3 penafsiran Tentang Nikah Sirri Di Masyarakat, diantaranya :
1. Pernikahan yang diadakan tanpa adanya wali pihak wanita
2. Pernikahan yang tidak Diumumkan
3. Pernikahan laki-laki dan wanita dibawah tangan, yaitu tanpa adanya
pencatatan resmi di lembaga resmi yang menangani pernikahan
Untuk Penafsiran pertama & kedua sepertinya sudah banyak Dijelaskan
para Ulama. bahkan Kaitannya dengan pernikahan sirri dalam penafsiran
yang Pertama, maka pernikahan tersebut batal dan tidak sah.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Tidak sah pernikahan tanpa adanya wali."
Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim
dan selain mereka. Al-Bukhari at-Tirmidzi menshahihkan riwayat hadits
ini secara maushul/bersambung-. Demikian juga al-Albani
menshahihkannya didalam al-Irwa` dengan beberapa riwayat penguat.
Yang menjadi permasalahan adalah PENAFSIRAN YANG KETIGA, yaitu
Pernikahan laki-laki dan wanita dibawah tangan, yaitu tanpa adanya
pencatatan resmi di lembaga resmi yang menangani pernikahan.
IKHWAH FILLAH RAHIMAKUMULLAH !
Saya akan jelaskan Pandangan Saya tentang PENAFSIRAN YANG KETIGA tersebut.
Setelah saya baca artikelnya Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi ( Dari
majalah Al Furqon ) tentang masalah Nikah Sirri, Jika disimpulkan,
Para ulama Kontemporer berbeda pendapat. ada 3 pendapat, yaitu :
1. Nikah tanpa KUA hukumnya boleh dan sah secara mutlak, karena
pencatatan bukanlah termasuk syarat nikah dan tidak ada pada zaman
Nabi dan sahabat.
2. Nikah tanpa KUA hukumnya haram dan tidak boleh pada zaman sekarang,
karena itu termasuk nikah sirri yang terlarang dan melanggar peraturan
pemerintah.
3.Nikah tanpa KUA hukumnya sah karena semua syarat nikah telah
terpenuhi hanya saja dia berdosa karena melanggar peraturan pemerintah
yang bukan maksiat.
IKHWAH FILLAH RAHIMAKUMULLAH !
Saya Pribadi memegang Pendapat yang pertama.
Alasannya adalah, Ketika Rasulullah masih Hidup, Beliau adalah
Pemimpin Umat Islam.Seandainya Pencatatan Hukumnya Wajib, Rasulullah
pastilah mewajibkan Pencatatan Para Sahabat yg menikah.
Selain itu, Pencatatan sulit realisasinya, Misalnya :
- dalam sebagian tempat dan keadaan, seperti di pelosok-pelosok desa
yang sulit mendapatkan pegawai resmi pencatatan akad nikah.
- Pengurusan Perizinan RAWAN Dieksploitasi oleh Pegawai Pemerintah Utk
kepentingan Pribadi. Terlebih lagi Kalau Pemerintahannya menggunakan
Sistem THOGHUT.
- Birokrasi Yg kadang berbelit-belit
Padahal Rasulullah Bersabda :
إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ
"Sesungguhnya agama Islam adalah mudah. Dan tidaklah seorangpun yang
memberat-beratkan diri dalam agama ini kecuali dia sendiri yang akan
terkalahkan olehnya." (HR. Al-Bukhari)
Dan SEANDAINYA Pencatatan di KUA itu Wajib, maka PERIZINANNYA YANG
HARUS DIPERMUDAH !
Jika ada yang berkata " Kalo Gak Mampu Nikah ya jangan Nikah ! "
saya Jawab :
Jika Seseorang Ikhwan sudah menyatakan diri mampu utk memenuhi semua
Kewajiban dia pada Istrinya, maka apakah dia tidak boleh Menikah ?
APAKAH HAK UTK NIKAH CUMA MILIK KAUM BORJUIS ?
Jika ada yang tanya "lalu Jika Tidak Dicatat Di KUA, bagaimana dengan
Hak2 istri Di Pengadilan Jika ada permasalahan" ?
Saya Jawab :
Banyak pengadilan Di Negeri2 Sekuler yg merugikan Umat Islam
Lalu Pengadilan yang manakah ?
Pengadilan Thoghut kah?
Pengadilan Mana yang mampu adil terhadap hak2 Umat Islam ?
Bagaimana mau tentram Umat Islam jika masih pakai Hukum2 yg
bertentangan dengan Hukum Allah ?
Bahkan tidak jarang Seorang yg berProfesi di Dunia Hukum Malah
mempermainkan Hukum.
Menyedihkan....
Orang yang Pergi Haji KELAPARAN....
Orang Mau nikah KESUSAHAN.....
Ikut ROHIS....
Disangka TERORIS....
KATANYA DEMOKRASI MEMBERIKAN HAK BERAGAMA KEPADA SEMUA GOLONGAN, MANA BUKTINYA ?
Yang benar datangya dari Allah.
Jika ada yang salah dari saya, Mohon Diluruskan.
22-02-2010 M /
Dari Hamba Allah yang Miskin Ilmu
" Mujahid yg Takut Virus Cinta "
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ
أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
Itulah Wasiatnya.
Semoga Bermanfaat
Yang benar Datangnya dari Allah.
Jika ada salah dari Kami, Mohon Di Luruskan.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ
أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

Jumat, 29 Oktober 2010

"Puisi untuk Palestina"

Begitu perih melihat luka-luka anak palestina
Tangis mereka adalah semangat relawan
Untuk terus menuju gaza walaupun nyawa akan malayang
Palestina engkau tak sendiri
Hampir seluruh dunia akan membela kebebesan dari zionis israel
tiap detik dan waktu Doa selalu dilantukan dari penjuru dunia
Untuk mu palestina
*****
Tuhan…
Berkaihi dan lindungi tanah palestina dengan janji Engkau Tuhan
Semoga semangat rakyat palestina tetap membara dengan kalimat Takbir
Sungguh jiwa-jiwa kalian palestina adalah mujahid sejati
sehingga cahaya itu hadir dibumi dan dilangit
sampai keajaiban-keajaibaan dan pertolongan Mu Tuhan
******
Tuhan Laknatanilah….
Negara-negara yang membusuhi Palestina
Negara yang membantai dan merenggut kebahagian anak kecil
Menindasi hak-hak palestina
****

"MUSLIMAH YANG IKHLAS"

Saudariku muslimah… ketahuilah bahwa engkau dan manusia seluruhnya di muka bumi ini diciptakan dengan tujuan untuk beribadah kepada Allah, demikian pula tujuan jin diciptakan tidak lain adalah untuk meyembah Allah.

Allah berfirman,
“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahKu (yaitu mengesaknKu).” (Adz Dzariyat 56)

Ibadah dilakukan oleh seorang muslimah karena kebutuhannya terhadap Allah sebagai tempat sandaran hati dan jiwa, sekaligus tempat memohon pertolongan dan perlindungan. Dan ketahuilah saudariku bahwa ikhlas merupakan salah satu syarat diterimanya amal seorang muslimah, di samping dia harus mencontoh gerak dan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam ibadahnya.

“Dan mereka tidaklah disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan dien (agama) kepadaNya, dengan mentauhidknnya.” (Al Bayyinah 5)

Ikhlas adalah meniatkan ibadah seorang muslimah hanya untuk mengharap keridhoan dan wajah Allah semata dan tidak menjadikan sekutu bagi Allah dalam ibadah tersebut. Ibadah yang dilakukan untuk selain Allah atau menjadikan sekutu bagi Allah sebagai tujuan ibadah ketika sedang beribadah kepada Allah adalah syirik dan ibadah yang dilakukan dengan niat yang demikian tidak akan diterima oleh Allah. Misalnya menyembah berhala di samping menyembah Allah atau dengan ibadah kita mengharapkan pujian, harta, kedudukan dunia, dan lain-lain. Syirik merusak kejernihan ibadah dan menghilangkan keikhlasan dan pahalanya.

Abu Umamah meriwayatkan, seseorang telah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, “Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berperang untuk mendapatkan upah dan pujian? Apakah ia mendapatkan pahala?”

Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ” Ia tidak mendapatkan apa-apa.”

Orang tadi mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali, dan Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tetap menjawab, ” Ia tidak akan mendapatkan apa-apa. ” Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amal, kecuali jika dikerjakan murni karenaNya dan mengharap wajahNya.” (HR. Abu Dawud dan Nasai)

Ketahuilah saudariku… bahwa ikhlas bukanlah hal yang mudah dilakukan. Ikhlas adalah membersihkan hati dari segala kotoran, sedikit atau pun banyak – sehingga tujuan ibadah adalah murni karena Allah.

Ikhlas hanya akan datang dari seorang muslimah yang mencintai Allah dan menjadikan Allah sebagi satu-satunya sandaran dan harapan. Namun kebanyakan wanita pada zaman sekarang mudah tergoda dengan gemerlap dunia dan mengikuti keinginan nafsunya. Padahal nafsu akan mendorong seorang muslimah untuk lalai berbuat ketaatan dan tenggelam dalam kemaksiatan, yang akhirnya akan menjerumuskan dia pada palung kehancuran di dunia dan jurang neraka kelak di akhirat.

Oleh karena itu, hampir tidak ada ibadah yang dilakukan seorang muslimah bisa benar-benar bersih dari harapan-harapan dunia. Namun ini bukanlah alasan untuk tidak memperhatikan keikhlasan. Ingatlah bahwa Allah sentiasa menyayangi hambaNya, selalu memberikan rahmat kepada hambaNya dan senang jika hambaNya kembali padaNya. Allah senatiasa menolong seorang muslimah yang berusaha mencari keridhoan dan wajahNya.

Tetaplah berusaha dan berlatih untuk menjadi orang yang ikhlas. Salah satu cara untuk ikhlas adalah menghilangkan ketamakan terhadap dunia dan berusaha agar hati selalu terfokus kepada janji Allah, bahwa Allah akan memberikan balasan berupa kenikmatan abadi di surga dan menjauhkan kita dari neraka. Selain itu, berusaha menyembunyikan amalan kebaikan dan ibadah agar tidak menarik perhatianmu untuk dilihat dan didengar orang, sehingga mereka memujimu. Belajarlah dari generasi terdahulu yang berusaha ikhlas agar mendapatkan ridho Allah.

Dahulu ada penduduk Madinah yang mendapatkan sedekah misterius, hingga akhirnya sedekah itu berhenti bertepatan dengan sepeninggalnya Ali bin Al Husain. Orang-orang yang yang memandikan beliau tiba-tiba melihat bekas-bekas menghitam di punggung beliau, dan bertanya, “Apa ini?” Sebagian mereka menjawab, “Beliau biasa memanggul karung gandum di waktu malam untuk dibagikan kepada orang-orang fakir di Madinah.” Akhirnya mereka pun tahu siapa yang selama ini suka memberi sedekah kepada mereka. Ketika hidupnya, Ali bin Husain pernah berkata, “Sesungguhnya sedekah yang dilakukan diam-diam dapat memadamkan kemurkaan Allah.”

Janganlah engkau menjadi orang-orang yang meremehkan keikhlasan dan lalai darinya. Kelak pad hari kiamat orang-orang yang lalai akan mendapati kebaikan-kebaikan mereka telah berubah menjadi keburukan. Ibadah mereka tidak diterima Allah, sedang mereka juga mendapat balasan berupa api neraka dosa syirik mereka kepada Allah.

Allah berfirman,
“Dan (pada hari kiamat) jelaslah bagi azab mereka dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan. Dan jelaslah bagi mereka keburukan dari apa-apa yang telah mereka kerjakan.” (Az Zumar 47-48)

“Katakanlah, Maukah kami kabarkan tentang orang yang paling merugi amalan mereka? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia usaha mereka di dunia, sedang mereka menyangka telah mengerjakan sebaik-baiknya.” (Al Kahfi 103-104)

Saudariku muslimah… bersabarlah dalam belajar ikhlas. Palingkan wajahmu dari pujian manusia dan gemerlap dunia. Sesungguhnya dunia ini fana dan akan hancur, maka sia-sia ibadah yang engkau lakukan untuk dunia. Sedangkan akhirat adalah kekal, kenikmatannya juga siksanya. Bersabarlah di dunia yang hanya sebentar, karena engkau tidak akan mampu bersabar dengan siksa api neraka walau hanya sebentar.

Maraji’:
Aina Nahnu Min Akhlaqis Salaf
Tazkiyatun Nufus

***

Artikel www.muslimah.or.id

Rabu, 27 Oktober 2010

Mujahid-Mujahidah Pembela Agama Allah

Hassan al Banna
From Wikipedia, the free encyclopedia

Hassan al Banna (October 14, 1906 - February 12, 1949, Arabic: حسن البنا) was an Egyptian social and political reformer best known as founder of the Muslim Brotherhood.

Banna was born in 1906 in Mahmudiyya, Egypt (north-west of Cairo). His father, Shaykh Ahmad al-Banna, was a respected local imam (prayer leader) and mosque teacher, educated at Al-Azhar University, who wrote and collaborated on books on Muslim traditions, and also had a shop where he repaired watches and sold gramophones. Though Sheykh Ahmad al-Banna and his wife owned some property, they were not wealthy and struggled to make ends meet, particularly after they moved to Cairo in 1924; like many others, they found that Islamic learning and piety were no longer as highly valued in the capital, and that craftsmanship could not compete with large-scale industry. (Mitchell 1969, 1; Lia 1998, 22-24)

When Hassan al-Banna was twelve years old, he became involved in a Sufi order, and became a fully initiated member in 1922. (Mitchell 1969, 2; Lia 25-26)

When he was thirteen, Banna participated in demonstrations during the revolution of 1919 against British rule. (Mitchell 1969, 3; Lia 1998, 26-27)

In 1923 he entered Dar al 'Ulum, a teacher training school in Cairo. Life in the capital offered him a greater range of activities than the village and the opportunity to meet prominent Islamic scholars (in large measure thanks to his father's acquaintances), but he was deeply disturbed by effects of Westernisation he saw there, particularly the rise of secularism and the breakdown of traditional morals. (Mitchell 1969, 2-4; Lia 1998, 28-30)

He was equally disappointed with what he saw as the failure of the Islamic scholars of al-Azhar University to voice their opposition to the rise of atheism and to the influence of Christian missionaries. (Mitchell 1969, 5)

In his last year at Dar al-'Ulum, he wrote that he had decided to dedicate himself to becoming "a counsellor and a teacher" of adults and children, in order to teach them "the objectives of religion and the sources of their well-being and happiness in life". He graduated in 1927 and was given a position as an Arabic language teacher in a state primary school in Isma'iliyya, a provincial town located in the Suez Canal Zone. (Mitchell 1969, 6)

In Isma'iliyya, in addition to his day classes, he carried out his intention of giving night classes to his pupils' parents. He also preached in the mosque, and even in coffee-houses, which were then a novelty and were generally viewed as morally suspect. At first, some of his views on relatively minor points of Islamic practice led to strong disagreements with the local religious élite, and he adopted the policy of avoiding religious controversies. (Mitchell 1969, 7; Lia 1998, 32-35)

He was appalled by the many conspicuous signs of foreign military and economic domination in Isma'iliyya: the British military camps, the public utilities owned by foreign interests, and the luxurious residences of the foreign employees of the Suez Canal Company, next to the squalid dwellings of the Egyptian workers. (Mitchell 1969, 7) Hassan al-Banna is known to have great impact in the modern Islamic thought. He managed to introduce Islam as an all-inclusive system of life, providing a practical example through his society


Sebelumnya: Mujahid-Mujahiddah Pembela Agama Allah
Selanjutnya : Mujahid-Mujahidah Pembela Agama Allah
Balas bagi

Senin, 25 Oktober 2010

DI MANA KUTEMUKAN BAHAGIA

“Barang siapa yang mengerjakan amal sholeh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (kebahagiaan) dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baikdari apa yang telah mereka kerjakan”

(An-Nahl:97)

Sahabat,ketika melihat orang lain yang hidup bergelimang harta dan kemewahan, mungkin hati kita berujar; “Bahagia sekali orang itu, setiap apa yang diinginkan mudah didapatkan, apa yang ia dapatkan melebihi apa yang dia butuhkan”. Ataukita melihat seorang teman yangkarirnya terus menanjak menuju kesuksesan. Dan hati kitapun berkata; “Bahagia sekali teman itu, setiap usaha yang dilakukan selalu mendapat kemudahan”.

Kalau dilihat dari lahiriyahnya, dipandang kedua orang itu sangat bahagia. Karena apa yang diinginkannya selalu ada. Tetapiapakah persangkaan kita selalu sama dengan orang yang kita persangkakan. Ternyata tidak selebihnya benar, karena realitasnya tidak sedikit orang yang kaya, justruselalu dihantui rasa ketakutan. Dan taksedikit orang yang sukses dalam karir, selalu menampakan kecemasan. Dua perasaan; takut dan cemas adalah bagian dari sikap ketidak bahagiaan. Lantas dimana kebahagiaan didapatkan?.

Sahabat, jangan tertipu dengan penglihatan lahir, karena dunia ini hanyalah perhiasan dan sandiwara. Tidak menutup kemungkinan, dibalik kemewahan hidup yang terlihat ada rasa ketakutan yang sangat. Dibalik senyum dan tawa akrab ada kepahitan dan kesedihan yang tidak kita ketahui. Mungkin tawanya hanya untuk menutupikegundahan perasaannya. Banyak orang yang bibirnya tersenyum tapi hatinya menangis. Tidak sedikit orang yang terlihat diam dan tenang tetapi jiwanya tertekan. Begitu banyak pemandangan terlihat sepintas menyenangkan padahal sebenarnya menyedihkan. Banyak orang menyangka dikiranya madu, ternyata ia adalah empedu. Dan tidak sedikit laknat dikiranya nikmat. Lantas,dengan apa kebahagiaan itu di dapatkan?.

Sahabat, Sejak dulu hingga hari ini, berbagai pergulatan dan hidup terus dilakukandemi sebuah kebahagiaan , bila perlu nyawa taruhannya. Tetapi ketahuilah, sejauh apapun kita melangkah untuk mengejar kebahagiaan tak akan pernahkita dapatkan, kalau tolak ukurnya adalah keduniaan. Sebab sifat dunia tak pernah memberi kepuasaan. Dan ketidak puasan itulah faktor utama penyebab ketidak bahagiaan.

Akhirnya, hanya satu solusi yang dapat mendapatkan mendatangkan kebahagiaan yang hakiki, yaitu hadirkan sifat qona’ah(menerima) apa yang telah Allah berikan. Orang yang qona’ah terhadap apapun yang diberikan jiwanya akan tenang. Sebab hatinya tidak menuntut mencapai sesuatu yang tidak ditakdirkan baginya dan tidak melirik kepada orang yang berada diatasnya. Tentu saja sifat ini tidaklah hadir dengan sendirinya tanpa faktor utama yang mendorongnya. Dan faktor itu adalah keimanan yang benar dan amal sholeh yang ikhlas. Orang yang tidak mempunyai keimanan yang benar akan selalu menderita kehampaan rohani dan selalu merasakan kesempitan diri. Tetapi orang yang beriman dengan benar hidupnya selalu diselimuti rasa aman dan kedamaian pikiran. Apabila hati di penuhi oleh iman, maka seluruh indra, perasaan dan anggota tubuh tergerak untuk melakukan kebaikan dan amal sholeh. Dan setiap iman bertambah dalam hati, maka kekuatan kebaikanpun akan bertambah, lalu hati seorang mukminpun akan terasa lapang. Kelapangan dada adalah buah sifat qona’ah.

Ibnul Qayyim al-Jauziyah mengungkapkan; Iman adalah jantung Islam dan intinya, sebagaimana keyakinan merupakan kalbu iman dan isinya. Setiap ilmu dan amal yang tidak menambah iman dan keyakinan adalah rusak, dan setiap iman yang tidak melahirkan amal pernuatan adalah lapuk” dan beliau menambahkan: “ Diantara ciri-ciri kebahagiaan dan keberuntungan adalah: setiap kali seoarng hamba bertambah ilmunya, maka bertambah pula sifata tawadhu’ dan kasih sayangnya. Setiap kali bertambah amalnya, maka bertambah pula rasa takut dan kewaspadaannya. Ketka umurnya bertambah tua, maka berkuranglah kerakusannya terhadap dunia.

Semoga Allah menghadirkan sifat qona’ah di dalam diri, karena dengannya kita akan terhindar dari ketidak puasan hati. Bila tidak ada iman, ketidak puasan terhadap apa yang telah dberikan, hanya akan melahirkan keinginan yang menyengsarakan. Tetapi jika iman telah meyelimuti kehidupan, sedikit atau banyak sesuatu yang didapatkan, membuat diri selalu berada dalam kebahagiaan.

Sabtu, 23 Oktober 2010

Kedudukan Ahlul Ilmi dalam Al qur'an dan Assunnah

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu berkata (Kitabul ‘Ilmi, hal. 13): “Yang dimaksud dengan ilmu adalah ilmu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berupa bayyinah (penjelas) dan huda (petunjuk). Maka, ilmu yang mengandung pujian dan keutamaan adalah ilmu wahyu, ilmu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menfaqihkan (menjadikan dia paham) akan agama.” (Muttafaqun ‘alaih dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu)


وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ


“Dan sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris para nabi. Dan sungguh para nabi tidaklah mewariskan dinar maupun dirham, hanya saja mereka mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya (ilmu tersebut) berarti dia telah mengambil bagian ilmu yang banyak.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 6298 dari Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu)


Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu berkata (Syarh Riyadhish Shalihin, 3/434): “Tidaklah mewarisi dari para nabi kecuali para ulama. Maka merekalah pewaris para nabi. Merekalah yang mewarisi, ilmu, amal dan tugas membimbing umat kepada syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala.”


Oleh karena itu, termasuk perkara yang sangat penting untuk kita ketahui dan pahami adalah manzilah (kedudukan) ahlul ilmi yang mulia di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sehingga kita bisa beradab terhadap mereka, menghargai mereka dan menempatkan mereka pada kedudukannya. Itulah tanda barakahnya ilmu dan rasa syukur kita dengan masih banyaknya para ulama di zaman ini.


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:


لاَ يَشْكُرُ اللهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ


“Tidaklah bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, orang yang tidak bersyukur kepada manusia.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu dalam Ash-Shahihul Musnad (2/338) berkata: Ini adalah hadits shahih menurut syarat Muslim. Dishahihkan juga oleh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 416, dari Al-Asy’ats bin Qais radhiyallahu ‘anhu)

Di antara keutamaan ahlul ilmi adalah sebagaimana berikut:


1. Ahlul ilmi adalah orang yang berkedudukan tinggi di dunia dan akhirat.


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ


“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadilah: 11)


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابَ قَوْمًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ


“Dia (Allah) akan meninggikan derajat suatu kaum dengan kitab ini, dan akan menghinakan dengannya pula kaum yang lain.” (HR. Muslim)


Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata dalam tafsirnya: “Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengangkat ahlul ilmi dan ahlul iman beberapa derajat, sesuai dengan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala khususkan kepada mereka (berupa ilmu dan iman).”

2. Ahlul ilmi adalah ahlul khasyyah (orang-orang yang takut) dan ahlut taqwa (orang yang bertakwa).
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Fathir: 28)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


وَاللهِ، إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي


“Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian dan yang paling bertakwa kepada-Nya. Namun aku berpuasa dan berbuka, aku shalat malam dan aku tidur, dan akupun menikahi para wanita. Barangsiapa membenci sunnahku, dia bukan termasuk golonganku.” (Muttafaqun ‘alaih dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)


Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata: “Setiap orang yang lebih berilmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, dialah orang yang lebih banyak takut kepada-Nya. Rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut mengharuskan dia menahan diri dari kemaksiatan dan mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Dzat yang dia takuti. Dan ayat ini adalah dalil yang menunjukkan keutamaan ilmu, karena ilmu itulah yang mendorong untuk takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”


Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Hanya saja yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan rasa takut yang sebenarnya, adalah para ulama yang mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Karena, tatkala semakin sempurna ma’rifah (pengenalan) terhadap Dzat Yang Maha Agung, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Mengetahui, Yang Memiliki sifat-sifat yang sempurna dan nama-nama yang berada pada puncak kebaikan, maka rasa takut kepada-Nya pun semakin besar dan sempurna. Ahmad bin Shalih Al-Mishri meriwayatkan dari Ibnu Wahb, dari Malik rahimahullahu, dia berkata: ‘Sesungguhnya ilmu itu bukan dengan banyaknya riwayat. Hanya saja ilmu itu adalah nur (cahaya) yang Allah Subhanahu wa Ta’ala masukkan ke dalam hati.’ Ahmad bin Shalih berkata: ‘Maknanya, khasyah (rasa takut) itu tidak didapatkan dengan banyaknya riwayat. Hanya saja (yang menyebabkan khasyah) adalah ilmu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan untuk diikuti, yaitu Al-Kitab dan As-Sunnah, serta apa yang datang dari para sahabat g, serta para imam kaum muslimin dari generasi setelah mereka. Maka hal ini tidak didapatkan kecuali dengan riwayat. Sehingga makna pernyataan Al-Imam Malik bahwa ilmu itu adalah nur (cahaya), maksudnya adalah pemahaman terhadap ilmu tersebut dan pengetahuan tentang makna-maknanya.”

3. Ahlul ilmi adalah orang yang paling peduli terhadap umat.


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ


“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, serta beriman kepada Allah.” (Ali ‘Imran: 110)


Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


مَثَلِي وَمَثَلُكُمْ كَمَثَلِ رَجُلٍ أَوْقَدَ نَارًا فَجَعَلَ الْجَنَاذِبُ وَالْفِرَاشُ يَقَعْنَ فِيْهَا وَهُوَ يَذُبُّهُنَّ عَنْهَا، وَأَنَا آخُذُ بِحُجَزِكُمْ عَنِ النَّارِ وَأَنْتُمْ تُفَلَّتُونَ مِنْ يَدِي


“Permisalanku dan permisalan kalian adalah seperti seseorang yang menyalakan api, kemudian mulailah serangga kecil dan kupu-kupu menjatuhkan diri kepada api tersebut. Padahal orang itu senantiasa menghalau hewan-hewan itu darinya. Akupun menahan pinggang kalian dari api neraka dalam keadaan kalian berusaha melepaskan diri dari kedua tanganku.” (HR. Muslim)


Yahya bin Mu’adz Ar-Razi rahimahullahu berkata (Mukhtashar Nashihat Ahlil Hadits, hal. 168): “Para ulama itu lebih belas kasihan terhadap umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada bapak-bapak dan ibu-ibu mereka.” Ditanyakan kepadanya: “Bagaimana demikian?” Dia menjawab: “Bapak-bapak dan ibu-ibu mereka menjaga mereka dari api di dunia, sedangkan para ulama menjaga mereka dari api di akhirat.”


Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata: “Kalau tidak ada para ulama, sungguh umat manusia akan menjadi seperti binatang.”


Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahu berkata dalam kitabnya Ar-Radd ‘ala Zanadiqah wal Jahmiyyah: “Segala puji bagi Allah, yang telah menjadikan pada setiap masa yang kosong dari para rasul, segolongan ahlul ilmi yang masih tersisa. Mengajak orang yang tersesat kepada petunjuk, dalam keadaan sabar terhadap gangguan mereka. berusaha menghidupkan orang-orang yang mati1 dan menjadikan orang-orang yang buta (hatinya) bisa melihat kebenaran dengan nur dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Betapa banyak orang yang telah dibinasakan oleh Iblis (dengan syubhat dan syahwat), namun sungguh mereka berhasil menghidupkannya (dengan Al-Kitab dan As-Sunnah). Betapa banyak orang yang tersesat, mereka beri petunjuk. Duhai, alangkah bagusnya kepedulian ulama terhadap umat. Namun, alangkah jeleknya sikap mereka terhadap ahlul ilmi.”

4. Asingnya ahlul ilmi di kalangan umat merupakan alamat kebinasaan umat.


Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا مِنَ النَّاسِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءَ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا


“Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari umat manusia dengan sekali cabut. Akan tetapi Dia akan mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga bila Dia tidak menyisakan seorang alim pun (sampai) umat manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin mereka. Maka mereka (para pemimpin itu) ditanya, lalu berfatwa tanpa ilmu. Maka mereka sesat dan menyesatkan.” (Muttafaqun ‘alaih)


Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu berkata (Syarh Riyadhish Shalihin, 3/438): “Tatkala hal tersebut terjadi, Islam hakiki yang terbangun di atas Al-Kitab dan As-Sunnah tidak akan didapatkan, karena para ahlinya sungguh telah diwafatkan.”

5. Ahlul ilmi adalah ahlul bashirah (orang yang memiliki ilmu yang mantap), sehingga mampu mengetahui akan terjadinya fitnah di awal mula munculnya fitnah.


Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam berkata dalam Tahdzirul Basyar (hal. 29-30): “Ketahuilah, orang yang paling mampu mengetahui kejelekan dari awal munculnya adalah para pewaris nabi, yakni para ulama yang beramal dengan dua wahyu (Al-Kitab dan As-Sunnah), dan benar-benar paham terhadap keduanya.”


Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang perbuatan Qarun yang melampaui batas dan umat pada masa itu terfitnah dengannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan pula bagaimana sikap ahlul ilmi terhadap hal itu.


فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَالَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ


“Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: ‘Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar’.” (Al-Qashash: 79)
Ini adalah sikap kebanyakan orang, yaitu berangan-angan memiliki harta yang banyak seperti Qarun. Adapun sikap ahlul ilmi, Allah Subhanahu wa Ta’ala kisahkan:


وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللهِ خَيْرٌ لِمَنْ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلاَّ الصَّابِرُونَ


“Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: ‘Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar’.” (Al-Qashash: 80)


Tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala benamkan Qarun berikut hartanya ke dalam bumi, barulah berubah sikap mayoritas umat tersebut.


Oleh karena itu, Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata: “Apabila fitnah itu baru muncul, para ulama mengetahuinya. Ketika fitnah itu telah berlalu, barulah umat menyadarinya.”


Sesungguhnya umat bisa mengetahui fitnah di awal munculnya, apabila mereka kembali (bertanya) kepada para ulama, bukan bertanya kepada orang menyerupai mereka. Perhatikanlah sikap para tabi’in ketika muncul fitnah Qadariyyah. Mereka bertanya kepada para sahabat g yang masih hidup pada masa itu, seperti Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, dan lainnya.

6. Ahlul ilmi adalah rujukan umat dan pembimbing mereka ke jalan yang benar.


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ


“Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (Al-Anbiya’: 7)


وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلَا فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا


“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Kalaulah mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu).” (An-Nisa`: 83)


Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata dalam tafsirnya:


“Ini adalah pelajaran adab dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi hamba-hamba-Nya tentang sikap dan perbuatan mereka yang tidak pantas. Seharusnya, apabila datang kepada mereka berita penting yang terkait dengan kepentingan umat, seperti berita keamanan dan hal-hal yang menggembirakan orang-orang yang beriman, atau berita yang mengkhawatirkan/ menakutkan, yang di dalamnya ada musibah yang menimpa sebagian mereka, hendaknya mereka memperjelas terlebih dahulu akan kebenarannya dan tidak tergesa-gesa menyebarkannya. Namun hendaknya mereka mengembalikan hal itu kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam (semasa beliau masih hidup) dan kepada ulil amri, yaitu orang yang ahli berpendapat, ahli nasihat, yang berakal (para ulama). Mereka adalah orang-orang yang paham terhadap berbagai permasalahan dan memahami sisi-sisi kebaikannya bagi umat, sekaligus mengetahui hal-hal yang tidak bermanfaat bagi mereka.


Apabila mereka melihat sisi kebaikan, motivasi yang baik bagi orang-orang yang beriman dan menggembirakan mereka bila berita tersebut disebarkan, atau akan menumbuhkan kewaspadaan mereka terhadap musuh-musuhnya, tentu mereka akan menyebarkannya (atau memerintahkan untuk menyebarkan).


Apabila mereka melihat (disebarkannya berita tersebut) tidak mengandung kebaikan, atau dampak negatifnya lebih besar, maka mereka tidak akan menyebarkannya.”


Karena demikian agung dan mulianya kedudukan ahlul ilmi –yaitu para ulama– menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, sudah semestinya umat menghormati dan memuliakan mereka. Juga kembali kepada mereka dalam menghadapi berbagai problematika, mempelajari agama ini dengan bimbingan mereka, khususnya di masa yang penuh dengan fitnah ini. Tidak ada jalan yang selamat kecuali kita merujuk kepada ahlul ilmi.


Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam berkata dalam At-Tanbihul Hasan (hal. 33): “Mereka (para ulama) adalah orang-orang yang senantiasa berusaha menghadang dakwah ke arah bid’ah dan pemikiran-pemikiran yang menyimpang. Mereka adalah orang-orang yang selalu menyampaikan kebenaran yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang mana generasi salafush shalih berjalan di atasnya. Adapun orang yang tidak mau merujuk kepada mereka, maka:


1. Mungkin dia adalah orang yang mengatakan bahwa semuanya itu baik. Maksudnya, Ahlus Sunnah, ahlul bid’ah, hizbiyyun (orang yang fanatik terhadap golongannya) adalah sama. Sehingga, hakikatnya dia menyamakan antara yang haq dengan yang batil.


2. Atau mungkin dia adalah orang yang berusaha menggiring umat kepada salah satu kelompok bid’ah atau hizbiyyah. Sekaligus berusaha memerangi dakwah yang haq. Dia berjalan dalam perkara tersebut sebagaimana yang diinginkan oleh induknya.2


Adapun orang yang kembali kepada ahlul ilmi, para ulama ahlul hadits, maka dia akan selamat dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, insya Allah.
Wallahu a’lam.

1 Yakni mati hatinya, disebabkan terjatuh dalam kesyirikan, bid’ah, dan kemaksiatan. -pen
2 Seperti Sururiyyah, Quthbiyyah, dan yang lainnya, yang induknya adalah Ikhwanul Muslimin.

Minggu, 10 Oktober 2010

"Ikhwan dan Kesetiaanya"

assalamualaikum!



Bagaimana saya bisa memulai menulis tentangnya, tentang seorang lelaki dan kesetiaannya. Sejujurnya saya tak begitu mengenalnya lebih jauh, hanya sedikit cerita dari adik saya yang merupakan menantu dari lelaki itu, dan dari tante saya yang tinggal bertetangga dengannya. Tetapi dari yang sedikit itu rasanya begitu banyak yang terasa menyentuh dihati saat mendengarnya.

Ia telah menikah selama hampir 30 tahun, telah dikarunia 4 orang anak yang telah berkeluarga, kecuali si bungsu yang sedang menyelesaikan kuliahnya. Selama 30 tahun pernikahannya, tahukah anda berapa tahun yang sempat dilaluinya utuh sebagai suami istri selayaknya? Mungkin hanya sekitar 11 tahun….saaat si bungsu baru berusia 1 tahun, sang istri terkena penyakit yang tak tahu apa sebab dan akibatnya.

Sering merasa ada bisikan-bisikan aneh di telinganya yang membuatnya kadang tak ingat dan tak sadar dengan sekelilingnya. Tahun-tahun pertama, ia masih dengan sabar membawa sang istri untuk berobat, mulai dari pengobatan medis hingga alternative. Tahun-tahun tanpa perubahan yang berarti…..tetapi lelaki itu tetap sabar, hingga akhirnya ia tiba pada satu keputusan, ia sendiri yang akan menjaga dan merawat sang istri.

Ia sadar akan banyak mengorbankan hal-hal di luar menjaga sang istri. Pekerjaan yang dijalani sebagai pengajar, dilakukan hanya benar-benar pergi untuk mengajar, tak pernah sempat untuk bersosialisasi, meski ditawari jabatan yang cukup bergengsi, ia sadar akan tugas dan kewajibannya menjaga sang istri butuh waktu dan perhatian extra. Pun saat silaturahmi dengan keluarga mulai terbatas untuk dilakukannya, bahkan saat adik saya menyelenggarakan aqiqah anaknya, sang kakek tak sempat datang karena tak ada yang menjaga sang istri.

Ia tak pernah keluar rumah sebelum memastikan sang istri ada yang menjaga. Bergantian ia dan anak-anaknya menjaga sang ibu, disela-sela kesibukan masing-masing. Kesadaran yang turun naik, kondisi fisik yang kadang memburuk, dan itu telah berlangsung selama hampir 20 tahun....

Apa yang ada di benak lelaki itu? Sungguh saya sangat ingin bertanya langsung padanya, tapi rasanya saat ini belum mungkin. Lelaki pendiam dan bersahaja itu, hanya beberapa kali saya bertemu dengannya, itupun tanpa percakapan apa-apa. Tapi dari sorot matanya saya tahu betapa ada bintang-bintang kesetiaan terpancar di matanya.

Lelaki itu pernah berkata pada anaknya mungkin ini amanah dari Allah untuk menjaga istrinya, menurutnya ini memang tugas yang telah di berikan Allah khusus untuk dirinya karena orang lain belum tentu bisa melakukanya….

Berapa banyak lelaki seperti itu di dunia ini? Lelaki yang tetap setia dan sabar menjaga istri yang sakit-sakitan bahkan selama 20 tahun, mungkin tak lagi bisa melayaninya lahir dan bathin. Sebuah alasan yang sungguh sangat dibenarkan dalam agama baginya untuk menikah lagi. Tetapi itu tidak dilakukannya.

Berapa banyak lelaki yang justru memiliki istri yang sehat walafiat tanpa kurang suatu apa pun tetapi tak jua mampu mengukuhkan kesetiannya pada sang istri? Dengan berbagai alasan dan pembenaran untuk bisa memalingkan cinta pada yang lain. Tetapi lelaki itu tidak!.

Kisah seorang istri yang setia pada suami mungkin masih sering kita dengar, tetapi kisah seorang suami yang seperti ini sungguh bukan hal yang biasa terdengar. Dia rela menghabiskan waktunya di rumah untuk tetap menjaga dan mengurus sang istri memastikan semua baik-baik saja.

Suatu saat kondisi istri agak memburuk, kami sekeluarga sempat menjenguk sang istri yang terbaring kaku, berhari-hari tak bisa makan, hanya sesekali disuapi susu oleh si bungsu, wajah lelaki itu muram tapi tetap berharap, meski sehari sebelumnya, adik saya sempat bercerita untuk pertama kalinya ia melihat lelaki itu menangis melihat keadaan sang istri, seraya berdoa agar Allah bisa memutuskan yang terbaik bagi sang istri, karena begitu tak tahan ia melihat penderitaan sang istri.

Waktu 20 tahun, bukan waktu yang singkat untuk memupuk kesabaran dan kesetiaan, tetapi lelaki itu telah membuktikannya. Atas alasan apa? Entahlah....hanya dia dan Tuhan yang tahu.....semoga ia mendapat balasan yang setimpal dengan kesabarannya, mungkin hanya bidadari di syurga yang layak mendampinginya sebagai balasan atas kesetiaannya....

Ah, cinta.....masih adakah cinta yang seperti itu, yang tulus memberi tanpa beharap balasan? Yang kukuh memupuk cinta meski hanya menumbuk bayangan semu yang tak lagi nyata bisa menemaninya merangkai hari-hari tua.

Sungguh beruntung sang istri memilikinya, semoga Allah menghapus semua kesalahannya disebabkan sakit yang telah bertahun-tahun dideritanya.
And....my husband....would you love me like that,....?